Batu Sandungan
Di sebuah kota tinggalah anak muda yang temperamen. Anak muda itu gampang marah dan tersinggung hanya karena alasan sepele, bahkan sering mengajak orang lain berkelahi jika dianggap orang itu menghinanya. Tak jarang orang tua anak muda tadi memberikan nasihat agar anaknya itu lebih bersabar. Tapi si anak tidak menggubris hal itu dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Suatu hari ketika dia mengendarai motor bersama temannya, sifat marahnya muncul tatkala motornya dibalap oleh orang lain. Dengan kesal motor itu dikejar dan di pepetnya dengan sikap sok jagoan. Orang yang dikejarnya akhirnya meminggirkan motornya, dan demi melihat itu merasa menanglah anak muda itu. Setelah itu dia langsung tancap gas meninggalkan orang yang membalapnya tadi. Tidak lama kemudian terdengar teriakan nyaring dan suara benda terjatuh. Ternyata anak muda itu mengalami kecelakaan karena kurang konsentrasi mengemudi. Akibat kecelakaan itu bagi dirinya memang tidak terlalu gawat karena dia hanya mengalami luka ringan. Tapi tidak demikian halnya dengan teman yang diboncengnya dan motor yang dikendarainya. Temannya mengalami luka – luka yang cukup parah, demikian juga kondisi motornya rusak berat.
Saat menengok temannya dia bertemu dengan orang tua temannya itu dan meminta maaf sekaligus mengakui kesalahannya. Anak muda itu akan minta orang tuanya untuk membantu biaya perbaikan motor dan pengobatan. Namun orang tua temannya itu tidak terlalu memedulikan biaya perbaikan dan pengobatan anaknya, karena yang penting menurutnya anak muda dan anaknya itu masih bisa selamat dari kecelakaan itu. Orang tua temannya itu akhirnya mengingatkan kepada anak muda itu, bahwa hidup adalah berkah yang tidak boleh disia – siakan oleh siapapun, karena itu usahakanlah untuk bermanfaat bagi diri sendiri. Karena jika belum bisa menjadi berkat bagi orang lain paling tidak cobalah tidak jadi batu sandungan bagi orang lain.
Contoh nyata adalah ketika anak muda dan temannya itu bermotor ria. Mereka naik motor dengan ugal – ugalan hanya karena di kebut orang lain. Sikap seperti itu selain tidak menghormati berkat yang diberikan Tuhan, juga menjadi halangan bagi orang lain. Dan itu sungguh hidup yang sia – sia.
Himpitan beban kehidupan sering membuat manusia gampang tersinggung dan mengumbar emosi. Dan merasa makin hebat jika bisa menindas orang lain. Dan itu adalah penyakit mental yang tidak perlu dipelihara.
Tahun 2008 adalah tahun penuh tantangan, karena itu usahakan agar berpikir dan bertindak. Kita harus memikirkan bagaimana cara untuk mengembangkan kekuatan kita, membuang kelemahan kita, dan mencari tahu apa yang bisa kita berikan pada orang lain. Dan wujudkan itu.
Di dunia ini kita hidup dengan orang lain, maka kita harus menjaga keharmonisan dengan orang lain dan menjadi berkat bagi mereka.