Sekedar Info…

Mei 5, 2009

Tips Bebas Depresi

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — bonnenuit @ 10:55 am

Tips Bebas Depresi

Pernah merasa depresi menghadapi pekerjaan kantor tidak ada habisnya? Atau, putus asa di tengah deraan masalah yang mengganggu bisnis anda?

Sebenarnya, sangatlah mudah untuk menghindari depresi dan lebih menikmati hidup. Langkah pertama dan yang paling penting adalah berada pada saat ini (In The Moment). Mulai fokus pada hal kecil yang biasa anda lakukan dan nikmati prosesnya. Seperti saat anda membuat kopi di pagi hari kemudian NIKMATI saat anda meminum kopi. Cobalah untuk tidak berpikir tentang hal yang lain.

Kosongkan pikiran dari segala kekhawatiran. Mungkin hal ini berat dilakukan terutama bila anda mempunyai tanggungan atau keluarga. Tapi ini sangat penting paling tidak untuk sementara, dan yakinlah bahwa 80% dari kekhawatiran tidak akan pernah terjadi, dan masalah apapun PASTI akan ada solusinya.

Lakukan apa yang anda senang lakukan pada masa kecil sebagai refreshing, seperti main bola, naik sepeda, berlarian pada saat hujan, dll.

Lihatlah ke ke langit dan nikmati hari yang cerah ataupun hari hujan. Bagaimanapun juga tiap hari adalah karunia Tuhan yang penuh dengan berkah. Tarik nafas panjang dan biarkan pikiran anda lepas

Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain. Tidak ada seorangpun didunia ini yang seperti anda. Anda menarik, hebat dan luar biasa dengan cara anda sendiri.

Jangan pernah menghukum diri sendiri karena ketidak mampuan orang lain untuk menghargai dan mencintai anda. Katakan pada diri anda sendiri bahwa orang tersebut tidak layak mendapatkan waktu anda dan mulailah kehidupan anda yang baru SEKARANG.

Tetap Semangat!!

Rosa S Rustam (Ocha)

Maret 12, 2009

TIGA atau EMPAT Buah Apel

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — bonnenuit @ 3:01 pm

TIGA atau EMPAT Buah Apel

Tersebutlah di sebuah sekolah kecil level Elementary dipojokan kota London pada suatu masa di tahun ‘80 an, seorang guru muda yang baru dua minggu mengajar di sekolah tersebut.

Hari itu dia mengajarkan pelajaran Matematika.
“Tom, kalau saya berikan padamu satu apel dan satu apel dan satu apel, berapa apel yang akan kamu punya?” Guru tersebut bertanya dengan perlahan kepada anak berumur 7 tahun yang duduk paling depan.

Setelah beberapa saat Tom menjawab: “EMPAT!”
Dengan ekspresi kaget bin heran. karena berharap Tom akan menjawab “tiga” dengan mudahnya.
Guru tersebut sangat kecewa. “Mungkin anak ini kurang mendengarkan tadi” pikirnya.
Guru muda berkacamata bulat tersebut bertanya lagi, “emmm…Tom, dengar baik-baik yah. Jika saya memberimu satu apel dan satu apel dan satu apel, berapa apel yang akan kamu punya?”

Tom, mulai membaca wajah kecewa pada wajah ayu Bu Guru. Lalu berpikir agak lama, sembari menekuk muka dan melakukan jarimatika.Tetapi Tom tetap menemukan jawaban yang sama.. Dia hitung lagi supaya menemukan jawaban yang mungkin beda dan akan membuat wajah ayu Bu Guru merona ceria. tetapi hasilnya tetap sama.

“ehmmm …EMPAT..!” agak ragu-ragu dan perlahan Tom berucap.
Wajah kecewa masih tetap di wajah bu guru berkacamata oval itu.
“Ehmm. kayaknya Tom senang dengan buah Strawberry dan mungkin Tom tidak suka apel sehingga tidak bisa fokus” pikir Bu Guru ayu dan berkacamata itu..

Lalu dengan wajah ayu nan merona bahagia laksana Tamara Blezinsky bertanya lagi “Tom, kalau saya beri kamu satu strawberry dan satu strawberry dan satu > strawberry. Maka berapa yang akan kamu punyai?”

Melihat wajah ceria Bu Guru, Tom menjawab cepat: “TIGA!”
Senyum kemenangan berkembang di wajah Bu Guru itu. Tetapi sebelum terlalu bergembira dengan keberhasilan menemukan sebuah cara pendekatan baru, sekali lagi Bu Guru bertanya: “OK, sekarang kalau saya beri kamu satu apel dan satu apel dan satu apel lagi, berapa apel yang akan kamu punyai?”

Dengan cepat Tom menjawab, “EMPAT!”

Dengan muka terperanjat pucat, laksana semua ijazah dan sertifikat luruh ditelan angin.
Bu Guru mengeluh, ” How Tom, how?”. bagaimana mungkin..

Dalam suara yang pelan dan ragu-ragu, anak muda Tom menjawab, “.. Karena, saya sudah memiliki satu apel di tas saya Bu..”

Dongeng atau cerita yang berasal dari almarhum ayahku ini sangat sederhana, tetapi terus membekas di hati dan pikiranku.apalagi ayahku memang seorang guru SD juga.
“kadang kita menilai dan memahami seseorang berdasarkan apa yang menurut kita benar”
“kadang kita bereaksi berdasarkan persepsi saja dan bukan pada kenyataan”

Februari 20, 2009

Renungan…

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — bonnenuit @ 8:55 am

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena
kebutaannya itu.
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua
orangkecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.
Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihatdunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya
sehingga diabisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamubisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.
Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis
sepucuk suratsingkat kepada gadis itu,
“Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat
status dalam hidupnya berubah . Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.  Hidup adalah anugerah Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan. Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu – Ingatlah akan
seseorang yang begitu cepat pergi ke surga. Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu -Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seoranganak, tetapi
tidak mendapatnya. Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang
kotor, dantidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggaldi jalanan. Sebelum merengek karena harus menyopirterlalu jauh – Ingatlah akan seseorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama. Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentangpekerjaanmu -Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan mereka yang menginginkanpekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain -
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu – Pasanglah
senyuman diwajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.
NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN
TERULANG
LAGI

…jadi Bersyukurlah setiap saat….

Sang Pemenang

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — bonnenuit @ 8:48 am

Sang Pemenang

Suatu ketika, tampak sekelompok anak laki laki sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan di sebuah pusat perbelanjaan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Diantara ke 4 anak itu, Ada seorang anak bernama Randi. Mobilnya tak istimewa, dibanding semua lawannya, mobil Randi lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsingkan bahkan meremehkan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik.Dengan tampilan seadanya , yang dibuat dari kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Randi bangga terhadap mobil yang dimilikinya , karena mobil itu buatan tangannya sendiri. Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Randi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak menepi dan berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!” 1..2…3…Dor. Tanda pertandingan dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo…ayo.. .cepat… cepat, maju…maju” , begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlampaui. Dan Randi lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Randi. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati “Terima kasih.” Saat pembagian piala tiba. Randi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahhkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan kecil kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?”. Randi terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil rasanya meminta pada Tuhan untuk menolong saya demi mengalahkan orang lain. Aku , hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar ungkapan bijak dari mulut seorang anak laki laki kecil. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan. Renungan : Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Randi , tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian, juga tak memohon kepada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, ia memohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukanlah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan- Nya, dan panduan-Nya? Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya.

Desember 3, 2008

Cinta Tanpa Syarat

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 3:12 pm

Di sebuah keluarga besar hiduplah kakek –nenek yang hidup rukun, serasi, harmonis dan saling mencintai. Suatu hari salah satu cucunya bertanya mengenai resep mempertahankan cinta mereka. Berceritalah mereka mengenai resep itu.

Kala itu kakek dan nenek tengah memperdebatkan artikel yang berjudul ‘Bagaimana Memperkuat Tali Pernikahan’. Di artikel itu dituliskan bahwa masing – masing diminta mencatat hal yang kurang disukai dari pasangannya. Selain itu artikel itu juga membahas cara membuat ikatan tali pernikahan menjadi kuat dan bahagia. Kakek dan nenek kemudian sepakat untuk membuat daftar itu. Untuk mencatat apa yang tidak disukai

Dari pasangannya, kakek dan nenek sepakat berpisah kamar malam itu.

Keesokan harinya nenek duluan yang membaca daftar dosa kakek, dan daftar ketidaksukaan nenek kepada kakek banyak juga. Walau demikian nenek tetap cinta pada kakek. Kemudian giliran kakek yang bercerita mengenai daftar itu. Kakek bilang pagi itu dia membawa kertas kosong karena memang tidak mengisinya dengan apapun. Kakek memberikan alasan mengapa dia tidak mengisi daftar ketidaksukaan kepada nenek. Menurutnya nenek adalah wanita yang kakek cintai apa adanya jadi kakek tidak mau mengubah apapun dari nenek. Kakek bilang nenek adalah wanita cantik, baik hati dan yang penting mau menikah dengan kakek, dan itu lebih dari cukup buat kakek. Mendengar pernyataan itu nenek sangat tersentuh. Sejak saat itu tidak ada masalah besar yang dapat membuat mereka bertengkar dan mengurangi rasa cinta mereka berdua.

Cerita diatas mencoba untuk mengatakan pada kita bahwa sering kali dalam kehidupan ini, kita menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi buruk yang mengecewakan dan menyakitkan. Padahal pada saat yang sama kita juga punya kemampuan untuk menemukan hal indah.

Kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat dan melihat serta bersyukur atas hal baik dalam kehidupan ini. Cobalah untuk senantiasa melupakan hal buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan dan kedamaian.

Konsistensi cinta tanpa syarat dapat dibangun dengan cara selalu melakukan komunikasi. Karena banyak hubungan pasangan yang carut marut dikarenakan kurangnya komunikasi yang baik. Karena rutinitas kerja, waktu yang sedikit ini membuat kualitas komunikasi mereka hambar. Dan kondisi ini rentan dalam hubungan berpasangan sehingga muncullah keinginan – keinginan yang mengakibatkan cinta bersyarat. Untuk menimbulkan rasa cinta tanpa syarat maka cobalah untuk bergaul dengan lingkungan yang bisa memberikan pencerahan mengenai cinta tanpa syarat

November 18, 2008

Touched Heart

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 11:05 am

dari email temen2..thanks ya

Ada sebuah kisah cinta yg menakjubkan dari China yang baru beredar belakangan ini dan mengharukan dunia. Cerita mengenai seorang pria dan wanita yang lebih tua yang kabur dari desa mereka dan saling mencintai dgn tenang lebih dari setengah abad. 

Pria China berusia lebih dari 70 tahun yang telah membuat dgn tangannya sendiri lebih dari 6,000 anak tangga di gunung untuk istrinya yg berusia 80 tahun telah meninggal di rumah gua buatan mereka setelah tinggal di sana lebih dari 50 tahun.
50  tahun lalu, , Liu Guo Jiang, seorang pemuda berusia  19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda beranak satu berusia 29 tahun bernama Xu Chaoqin..
 
Tak jauh berbeda dgn kisah roman Shakespeare’s Romeo dan Juliet, teman serta kenalan mengkritik hubungan mereka karena perbedaan usia dan juga Xu telah mempunyai anak.
 
Waktu itu, seorang pria mencintai wanita yang lebih tua adalah hal yang tak bisa diterima dan immoral. Untuk menghindari gossip dan ancaman terhadap hubungan mereka, pasangan itu memutuskan untuk melarikan diri dan hidup di gua di Jian Gjin di Southern ChongQing Municipality.
 
Pada awalnya, hidup begitu sulit karena mereka tak punya apa2, tak ada listrik dan makanan. Mereka harus makan rumput dan akar yang mereka temukan di gunung, dan Liu membuat lampu kerosin untuk menerangi rumah mereka. 
Xu merasa ia telah mengikat Liu dan berulang kali menanyakan padanya, ‘Apa kau menyesal?’
Dan Liu selalu menjawab, ’selama kita rajin, hidup kita akan membaik.’
Mulai tahun kedua hidup bersama di gunung, Liu mulai dan selama 50 tahun terus menerus membuat anak tangga dgn tangannya supaya istrinya bisa turun gunung dgn lebih mudah.
Separuh abad kemudian di tahun 2001, sekelompok petualang menjelajah hutan dan terkejut menemukan pasangan tua di sana dan lebih dari 6,000 anak tangga buatan tangan. Liu MingSheng,  salah satu dari tujuh anak mereka berkata, ‘orang tuaku saling mencintai, mereka telah hidup terpencil lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah satu hari pun. Ia membuatkan anak tangga untuk ibu, meskipun ibu tidak sering2 turun gunung.’
Pasangan itu telah hidup lebih dari 50 tahun sampai minggu lalu. Liu, yang telah berusia 72 tahun, setelah kembali dari bercocok tanam tiba-tiba pingsan. Xu duduk dan berdoa dgn suaminya saat suaminya meninggal dalam pelukannya. Liu begitu mencintai Xu sehingga orang-orang sulit untuk melepaskan pegangan tangannya pada istrinya bahkan setelah ia meninggal. 
‘Kau berjanji akan menjagaku, kau akan bersamaku sampai aku mati. Sekarang kau pergi mendahuluiku. Bagaimana mgkn aku hidup tanpamu? ‘
Xu melewati hari-hari dgn membisikkan kata-kata ini setiap hari dan menyentuh peninggalan suaminya dgn wajah yang penuh air mata..
                                                                                                                                                    
Pada tahun 2006, kisah mereka menjadi salah satu dari 10 kisah cinta terbaik dari China , yang dikumpulkan oleh Chinese Women Weekly. Pemerintah local memutuskan untuk merawat Tangga cinta dan tempat yang mereka tinggali sebagai museum, supaya kisah cinta ini bisa hidup selamanya.
kisah yang mnegharukan..

Oktober 30, 2008

Saya Ingin Seperti Ayah

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 7:22 am

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah kerumah anaknya yang bekerja di sana .

Di situlah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh,

” Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.”

“Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.

“Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota , itu masih dapat dimengerti,” katanya.

“Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”

“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,

“Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia ?”

“Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya,

“Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia .

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”

“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,

“Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”

“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”

Ia hanya berkata, “Oh ….”

Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata,

“Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya,

“Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,

“Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”

“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”

Ia bilang,

“Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;

Ya betul, ternyata anakku “aku banget”.

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya,

“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”,
kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.

Sumber: Anonymous

Oktober 22, 2008

KISAH DI MUSIM DINGIN

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 8:12 am

Kisah Nyata, seperti temuat dalam harian Xia Wen Pao, 2007)

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7
tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue
dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh
kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya,
seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.  Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi
bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti
pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan
niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang
untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan
dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi
pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang
membeku dan sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan
salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak.
Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil
meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari
tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya.
Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan
mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang
masih berantakan namun tetap terbaca :

“Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk
membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun.”

* * * *
Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi
kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya

September 4, 2008

The Power of Negotiation

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 8:34 am

Ayah : Anakku, aku ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Ayah
Anak : Maaf, Ayah! Aku hanya akan menikah dengan wanita pilihanku sendiri
Ayah : Tapi, Anakku, Wanita ini adalah anaknya Bill Gates
Anak : Ah, Serius, Yah? Kalo gitu, Ok, deh!

Hari berikutnya, Sang ayah mendekati Bill Gates
Ayah : Saya telah memilihkan calon suami untuk anakmu
Bill Gates : Tapi, anakku masih terlalu muda untuk menikah sekarang.
Ayah : Weits, tunggu dulu. Calon yang aku pilihkan ini
adalah vice president dari Bank Dunia
Bill Gates : Ah, Serius Lo?? Kalo gitu, Ok, deh!

Akhirnya Sang Ayah mendekati President Bank Dunia

Ayah : Saya memiliki seorang anak muda yang bisa dijadikan vice president untuk kamu
President : Oh, maaf, saya sudah memiliki banyak calon VP untuk itu
Ayah : Tapi kamu tidak tau, kan, Anak laki-laki ini adalah menantunya Bill Gates
President : Ah, Serius Lo??? Kalo gitu, Ok, deh!

Agustus 15, 2008

Ibu

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 9:33 am

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak
yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima
kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak
yang raut mukanya berbinar-binar.
Siibu mengambil pena dan menulis
sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan – GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu – GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dankeperluanmu – GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS
JumlahKeseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak
menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang
ditulisnya: “Telah Dibayar” .

Salam
Dari seorang Anak yang telah memiliki Anak…

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.