Sekedar Info…

Oktober 30, 2008

Saya Ingin Seperti Ayah

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 7:22 am

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah kerumah anaknya yang bekerja di sana .

Di situlah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh,

” Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.”

“Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.

“Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota , itu masih dapat dimengerti,” katanya.

“Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”

“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,

“Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia ?”

“Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya,

“Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia .

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”

“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,

“Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”

“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”

Ia hanya berkata, “Oh ….”

Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata,

“Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya,

“Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,

“Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”

“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”

Ia bilang,

“Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;

Ya betul, ternyata anakku “aku banget”.

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya,

“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”,
kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.

Sumber: Anonymous

Oktober 22, 2008

KISAH DI MUSIM DINGIN

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 8:12 am

Kisah Nyata, seperti temuat dalam harian Xia Wen Pao, 2007)

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7
tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue
dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh
kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya,
seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.  Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi
bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti
pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan
niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang
untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan
dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi
pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang
membeku dan sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan
salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak.
Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil
meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari
tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya.
Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan
mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang
masih berantakan namun tetap terbaca :

“Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk
membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun.”

* * * *
Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi
kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya

STOP PEMAKAIAN STYROFOAM

Diarsipkan di bawah: Sekerdar info.. — bonnenuit @ 8:10 am

Beberapa tahun lalu, Mc Donalds mengumumkan akan mengganti wadah styrofoam dengan kertas.
Para ahli lingkungan menyebutkan keputusan itu sebagai ”kemenangan lingkungan”
karena styrofoam sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Namun bukan berati styrofoam (polystyrene) jadi berkurang dan hilang.
Malahan di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan makin menjamur.
Sangat mudah menemukannya dimana-mana.
Mulai dari restoran cepat sampai ketukang-tukang makanan di pinggir jalan,
menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan mereka.
Alasannya, ingin praktis dan tampil lebih baik.
Padahal di balik kemasan yang terlihat bersih itu
ada bahaya besar yang mengancam.

Dalam industri, styrofoam sering digunakan sebagai bahan insulasi.
Bahan ini memang bisa menahan suhu, sehingga benda didalamnya tetap dingin atau hangat.
Karena bisa menahan suhu itulah,
akhirnya banyak yang menggunakannya sebagai gelas minuman dan wadah makanan.

Berbahaya Bagi Kesehatan
Mengapa styrofoam berbahaya?
Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat dari butiran-butiran styrene,
yang diprosese dengan menggunakan benzana.
Padahal benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak penyakit.

Benzana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid,
mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan,
mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran,
dan menjadi mudah gelisah.
Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian.
Saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-sel darah
dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang.
Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia.
Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah terinfeksi.
Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan.
Dan yang paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan kanker payudara
dan kanker prostat.

Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization’ s International Agency for Research on Cancer
dan EPA (Enviromental Protection Agency) styrofoam telah dikategorikan sebagai
bahan carsinogen (bahan penyebab kanker)

Makin Berlemak Makin Cepat
Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam,
bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan.
Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak (fat) dalam suatu makanan atau
minuman makin tinggi.
Selain itu, makanan yang mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea)
juga dapat mempercepat laju perpindahan.

Penelitian juga membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan,
semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan.
Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan di pinggir jalan,
styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang baru masak.
Malahan ada gerai makanan cepat saji yang memanaskan lagi
makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave.
Terbayang’kan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan kita
dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.

Buruk Bagi Lingkungan
Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak ramah lingkungan.
Karena tidak bisa diuraikan oleh alam, styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari lingkungan.
Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat merusak ekosistem dan biota laut.

Beberapa perusahaan memang mendaur ulang styrofoam.
Namun sebenarnya, yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama,
membentuknya menjadi styrofoam baru
dan menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan minuman.

Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari lingkungan.
Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan,
limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan styrofoam sangat banyak.
Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai
penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.
Selain itu, proses pembuatan styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap
yang mengganggu pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.

Melihat sedemikian besar dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan,
beberapa kota di Amerika seperti Berkeley dan Ohio telah melarang
penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan.
Bagaimana dengan kita di Indonesia, masih tetap mau memakai styrofoam??

Bagaimana dengan anda dan Keluarga anda?
Akankah berlaku bijak dengan tidak menggunakan styrofoam.

Blog pada WordPress.com.