Sekedar Info…

Agustus 15, 2008

Ibu

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 9:33 am

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak
yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima
kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak
yang raut mukanya berbinar-binar.
Siibu mengambil pena dan menulis
sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan – GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu – GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dankeperluanmu – GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS
JumlahKeseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak
menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang
ditulisnya: “Telah Dibayar” .

Salam
Dari seorang Anak yang telah memiliki Anak…

Agustus 14, 2008

Ayahku Tukang Batu

Diarsipkan di bawah: Cerita Motivasi — Tag: — bonnenuit @ 8:33 am

Banyak diantara kita yang merasa malu terhadap apa yang sudah dimiliki, atau terhadap lingkungan yang ada disekelilingnya. Misalnya malu karena keluarganya tidak mapan, malu karena penampilan yang tidak cantik atau ganteng, malu karena pendidikan rendah serta hal lain yang membuat kurangnya percaya diri. Ketika rasa tidak percaya diri terlalu membungkus diri seseorang, maka dikhawatirkan rasa bersyukur akan hilang dari diri kita.

Malu atau minder atau tidak percaya diri juga menimpa seorang putri yang ayahnya bekerja sebagai tukang batu di perusahaan kontraktor. Putri ini tidak pernah mau mengakui pekerjaan ayahnya, jika ada yang bertanya padanya. Putri tukang batu itu selalu mengatakan bahwa ayahnya adalah salah satu petinggi di perusahaan kontraktor. Sang ayah sedih dengan kebohongan dan pengingkaran keadaan yang dilakukan oleh anaknya.

Hubungan kedua anak-ayah itupun menjadi tidak harmonis. Putri lebih banyak mengurung diri di kamar dan menyesali mengapa dia harus mempunyai ayah seorang tukang batu.

Suatu hari sang ayah mencari waktu untuk berjalan – jalan dengan putrinya yang mulai menginjak remaja itu. Walaupun agak enggan menerima ajakan ayahnya, tapi putri tukang batu itu menurut juga. Di taman si ayah menunjukkan sebuah gedung tua. Ayah itu lalu berkata bahwa dia adalah salah satu yang ikut membangun gedung itu. Dan ayah itu bersyukur dan bangga karenanya.

Ayah itu ingin agar putrinya juga turut bersyukur dan bangga akan apa yang telah dilakukannya. Karena apa yang dilakukannya juga telah membiayai hidup mereka selama ini. Mendengar cerita itu putri tukang batu itu kemudian tersadar dan bangga akan ayahnya. Ayah dan putri itu kemudian berpelukan dan menangis haru.

Tidak peduli apapun pekerjaan yang dikerjakan bila disertai dengan kejujuran, cinta dan mengetahui tujuan dari apa yang dikerjakan, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu.

Tidak menerima diri sendiri dengan apa adanya akan membuat diri kita kewalahan dan selalu merasa was – was karena harus menutupi kepalsuan. Maka itu, daripada hidup dengan kebahagiaan semu, lebih baik mengikuti kehidupan tukang batu diatas yang walaupun hidup dalam keadaan pas – pasan, tapi hidup dengan memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia

Blog pada WordPress.com.